• Breaking News

    Google Berantas Berita Hoak



    Jakarta, CNN Indonesia -- Sama seperti Facebook, Google berencana memberantas berita palsu yang beredar di dunia maya dengan mengubah kebijakan pada sistem layanan iklan AdSense miliknya.
    Belakangan peran media sosial seperti Facebook dan Twitter sedang diperdebatkan lantaran diduga memiliki pengaruh besar dalam penyebaran hoax, khususnya selama masa kampanye Donald Trump dan Hillary Clinton hingga pemilu untuk memperebutkan kursi Gedung Putih Amerika Serikat.
    Alphabet selaku perusahaan induk Google mengumumkan bahwa raksasa teknologi yang bersemayam di Mountain View, California itu akan turun tangan dalam pencegahan penyebaran berita hoax. 
    Dengan membatasi AdSense di situs web yang menyebarkan konten palsu, upaya ini dipercaya akan memotong keuntungan iklan yang biasanya mereka dapatkan berkat konten hoax.
    Usai Dituduh Soal Trump, Zuckerberg Janji Basmi Berita Hoax
    "Ke depan, kami akan melarang layanan iklan di situs yang kerap berbohong, fitnah, atau menyembunyikan informasi mengenai pemilik situs, konten situs, dan lainnya," tulis Google dalam pernyataan resminya pada Senin (14/11).
    Catatan singkat, AdSense adalah produk Google yang dapat memfasilitasi pengiklan menempatkan iklan barisnya ke jutaan situs web yang terdaftar di jaringan Google. Bagi pemilik situs, fitur Google satu ini adalah sumber pemasukan yang sangat besar.
    Google belajar dari kasus situs berita asal Makedonia yang kontennya didominasi dengan berita hoax mengenai pemilihan presiden Amerika Serikat. Setiap berita palsu yang mereka buat --terutama yang menjelek-jelekkan Hillary Clinton-- tersebar luas di Facebook.
    Berkat kejadian itu, pengunjung situs mereka bertambah banyak. Trafik yang tinggi inilah yang memancing iklan via AdSense tampil di laman situs berita palsu ini.
    Kantor berita Reuters mewartakan, Google sebenarnya telah lama menerapkan kebijakan yang mencegah fasilitas AdSense tampil di situs-situs yang memuat konten negatif seperti pornografi dan kekerasan. 
    Perusahaan menggunakan kombinasi kecerdasan buatan dan manusia untuk menilai apakah suatu situs memenuhi ketentuan AdSense dan terus mengawasinya sampai setelah ketentuan terpenuhi
    Untuk Google, penyebaran berita hoax menjadi isu penting bagi bisnis mereka. Alasannya adalah banyak pengiklan yang tak ingin merek mereka bersanding dengan situs yang kebenaran informasinya meragukan.
    Fil Menczer, seorang profesor komputer dan informatika dari Indiana University yang meneliti penyebaran informasi palsu di media sosial berpendapat bahwa langkah yang diambil Google lewat AdSense sudah tepat.
    "Salah satu insentif yang memicu berita palsu adalah uang. Kebijakan ini bisa memotong pemasukan yang menjadi alasan mereka mmebuat berita palsu," ucap Fil.
    Meski demikian, ia menilai langkah Google tak akan mudah dalam mendeteksi situs berita palsu sebab ada kalanya sebuah situs menampilkan setengah informasi benar dan palsu secara bersamaan.
    Google sendiri belum memastikan secara rinci sistem yang akan mereka pakai dalam mendeteksi situs berita palsu. Namun rencana mereka terlihat lebih jelas ketimbang yang sedang dikerjakan Facebook untuk mencegah berita hoax berseliweran.
    Berbagai kritik menimpa Facebook, Twitter, dan Google yang dianggap berkontribusi terhadap penyebaran konten berita palsu yang terkulminasi di sepanjang proses pemilu AS. 
    Facebook sendiri menjadi salah satu yang paling dikritik dengan algoritma mereka, dan berpotensi mencegah penggunanya mengonsumsi konten informasi yang lebih beragam. (hnf/evn)


    sources : CNN

    Infokan pada teman/kerabat anda yang membutuhkan informasi ini. KLIK TOMBOL :

    FacebookGoogle+Twitter WhatsApp

    Tidak ada komentar

    SUBSCRIBE

    Post Bottom Ad